Minggu, 29 September 2013

Manajemen Produksi Ternak Unggas
“Manajemen Hari Gelap dan Terang  pada Unggas”





                      NAMA                            : RELTI
                      NIM                                 : 05111004031                      
                      PRODI                            : Peternakan

Fakultas pertanian
Jurusan peternakan
Universitas Sriwijaya

2013




KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT  karena ridho dan rahmat serta hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Management hari gelap dan hari terang pemeliharaan ayam petelur (Layer) “ ditulis untuk memenuhi persyaratan mata kuliah management produksi ternak unggas . Sholawat serta salam semoga selalu tercurah  kepada Nasi Besar Muhammad SAW, kepada keluarga, para sahabat dan kepada  umatnya sampai akhir zaman.  Unggas merupakan ternak yang peka terhadap rangsangan cahaya. Cahaya  memegang peranan penting dalam proses pendewasaan kelamin pada ternak, yang  pada gilirannya akan berpengaruh terhadap produksi telur. Tatalaksana penyinaran  merupakan faktor yang tidak dapat dipisahkan dari manajemen usaha peternakan unggas, bahkan merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan oleh  peternak. Penggunaan cahaya yang berlebihan belum tentu menghasilkan keadaan  yang menguntungkan, bahkan mungkin dapat merugikan karena akan terjadi  pemborosan energi.  Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah  berpartisipasi dalam kelancaran makalah ini . Penulis menyadari bahwa makalah  ini  masih ada kekurangan sehingga masih jauh dari kesempurnaan, tetapi penulis  berharap semoga tulisan ini bermamfaat bagi pembaca.
                                                                                                 24 September 2013


                                                                                                      
                                                                                                         RELTI     


                 


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pengembangan usaha ternak layer (ayam petelur) di Indonesia masih memiliki prospek yang bagus, terlebih lagi konsumsi protein hewani masih kecil. Sesuai standar nasional, konsumsi protein per hari per kapita ditetapkan 55 g yang terdiri dari 80% protein nabati dan 20% protein hewani (www.litbang.deptan.co.id). Hal itu berarti target konsumsi protein hewani sekitar 11 g/hari/perkapita. Namun yang terjadi, konsumsi protein hewani penduduk Indonesia baru memenuhi 4,7 g/hari/perkapita, jauh lebih rendah dibanding Malaysia, Thailand dan Filipina.
Dalam dunia peternakan, kita tidak asing lagi dengan ayam yang sengaja diternakan untuk dihasilkan daging atau telurnya, karena sudah banyak peternakan ayam yang menyebar diseluruh Indonesia bahkan sampai diluar negeri, baik peternakan pabrik ataupun peternakan individu.Ayam itu sendiri terbagi ke dalam dua jenis yaitu ayam jenis pedaging dan ayam jenis petelur. Ayam jenis pedaging, pastinya dibudidayakan karena untuk dihasilkan daging dalam jumlah yang banyak dengan kualitas yang baik, sedangkan ayam petelur dibudidayakan untuk dihasilkan telur dengan jumlah yang banyak dan kualitas yang baik.
Suhu Lingkungan ayam ras petelur dewasa dalam pemeliharaannya, memerlukan kisaran suhu yang ideal antara 18-21oC, karena ayam ras umumnya berasal dari negara beriklim subtropis. Temperatur tersebut hanya dapat dicapai di dataran tinggi di Indonesia yang beriklim tropis (panas lembab). Suhu lingkungan yang panas akan mengurangi nafsu makan ayam ras petelur dan ayam cenderung lebih banyak minum. Berkurangnya konsumsi dapat mengganggu kebutuhan nutrisi dan berpengaruh pada produksi telur. Ayam ras petelur lebih mudah beradaptasi (lebih tahan) dengan suhu yang relatif tinggi daripada suhu yang selalu berubah-ubah.
Bila kita tinjau dari iklimnya kepulauan Indonesia yang terbentang disepanjang khatulistiwa (tropis) mempunyai iklim dengan perubahan temperatur udara yang tidak begitu besar sepanjang tahun. Temperatur udara minimum dan maximum diseluruh kepuluan Indonesia walaupun agak berbeda-beda, tetapi sebagian besar masih dapat ditoleransi atau diadaptasi dengan baik oleh ternak ayam ( ± 210C s/d ± 270C ). Bahkan dibeberapa daerah terdapat temperatur udara yang sangat baik (favorable) bagi ternak ayam ( ± 150C s/d 210C ) dan samping itu di temukan pula daerah yang mempunyai temperatur lebih tinggi dari kebutuhan optimal ternak ayam, seperti daerah dataran rendah dan pantai. Keadaan iklim yang sedikit berbeda ini memerlukan perhatian management yang berbeda seperti menyiapkan konstruksi kandang ayam, kwalitas ransum makanan, penyimpanan hasil produksi ddsn sebagainya.
Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang khusus untuk diambil telurnya. Selain diambil telurnya ayam-ayam ini juga dapat diambil/dikonsumsi dagingnya. Perawatan ayam petelur pun cukup mudah. Hasil yang maksimal akan didapat oleh peternak dengan melakukan pemeliharaan yang baik. Ada banyak cara untuk memelihara ayam petelur ini. Di makalah ini akan membahas segala macam hal yang berhubungan dengan ayam petelur.Melakukan usaha ternak ayam petelur ini dapat dilakukan secara pribadi maupun secara kelompok dengan modal bersama atas nama kelompok peternak. Dengan adanya peternak ayam petelur diharapkan Indonesia bisa menjadi Negara berkembang dengan sumber daya manusianya.bisa mengolah sendiri tanpa harus ekspor dari luar negeri.
Salah satu sumber bahan protein yang bermutu tinggi bagi rakyat Indonesia, mudah diperoleh dan terjangkau oleh kemampuan pendapatannya ialah telur dan dagingnya. Dalam rangka usaha menambah penyediaan protein hewani inilah pemerintan menganjurkan untuk meningkatkan lagi perkembangan peternakan ayam ras (unggul), seperti penyediaan bibit unggul, obat-obatan, melaksanakan pameran atau kontes ternak unggas secara nasional dan sebagainya.
            Ada berbagai pola yang dapat dilakukan dalam pemberian cahaya tambahan pada ayam periode produksi. Jika pola pemberian cahaya ini tidak dilakukan dengan benar, maka justru akan merugikan peternak. Oleh karena itu, sebelum peternak melakukan pengaturan pencahayaan dengan berbagai modifikasi, peternak harus mengetahui fungsi cahaya tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan pengaturan berbagai modifikasi yang disesuaikan dengan lingkungan dan kondisi ayam.
1.1  Rumusan Masalah
1.                   Pengertian Ayam Petelur (Layer)
2.                   Manajement hari gelap dan hari terang pada Ayam Petelur (Layer)
1.2  Tujuan
1.                   Mengetahui tentang Ayam Petelur (Layer)
2.                   Mengetahui menejement pemeliharaan hari gelap dan hari terang pada Ayam Petelur (Layer)


















BAB II
TINJAUAN  PUSTAKA

 Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak (Yang zhao , 2013). Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur.
Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar diIndonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni). Ayam semacam ini masih bisa dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar ayam.
Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi ayam. Ketika itu, sifat ayam dianggap seperti ayam kampung saja, bila telurnya enak dimakan maka dagingnya juga enak dimakan. Namun, pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur banyak tetapi tidak enak dagingnya.
Telur merupakan suatu bentuk tempat penimbunan zat gizi seperti air, protein, karbohidrat,lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan embrio sampai menetas. Selain itu kerabang telur berfungsi sebagai pelindung dari pengaruh luar sehingga kondisi telur bagian dalam tidak terpengaruh dan kondisi embrio tidak tergantung pada saat dierami hingga meneras menjadi anak ayam. Telur yang dapat ditetaskan adalah harus fertil atau yang lazim disebut dengan telur tetas. Telur tetas merupkan telur yang sudah dibuahi oleh sel jantan, telur tersebut disebut telur infertil atau lazim disebut telur konsumsi, artinya telur tersebut tidak dapat menetas jika ditetaskan, melainkan hanya untuk dikonsumsi saja. (Hinch, 2002:3).
Bagian-bagian yang terdapat pada telur berbentuk lapisan, tersusun dari dalam keluar. Bagian telur pertama dimulai dengan sel telur. Sel telur ini kecil dan terlihat sebagai bintik agak putih, kuning telur dikeluarkan oleh oupduct atau saluran sel telur, kemudian ditambah empat lapisan pemisah albumen (putih telur). Bagian-bagian ini dilindungi oleh dua lapisan “kulit” membran tipis yang transparan, kemudian pada bagian luar kulit ini dibungkus oleh kulit kerabang telur (shell). Hanya beberapa jam sebelum telur dikeluarkan dari tubuh induk, telur mengalami pigmentasi warna, pigmen ini dihasilkan dalam tubuh ayam. Karena setiap telur dipigmentasi secara terpisah, maka warna setiap ayam nantinya akan bervariasi meskipun telurnya dikeluarkan dari induk yang sama.
Sebelum menghasilkan anak ayam, telur yang dikeluarkan harus sudah dibuahi (fertile), seekor induk ayam dapat mengeluarkan telur tanpa dibuahi, oleh karena itu agar telur tersebut dibuahi dan dapat menetas menjadi anak ayam, ayam betina tersebut harus disatukan dengan ayam jantan. (Kocher, 2002:4)
Sel telur yang terdapat dalam telur dan sudah dibuahi adalah bakal anak ayam. Sebelum telur menetas, bakal anak ayam ini disebut embrio. Embrio ini harus mendapatkan makanan untuk pertumbuhannya. Embrio ini mendapat makanan dari kuning telur (yolk), karena itulah sebabnya mengapa sel telur selalu menempel atau berasa pada pinggir kuning telur, satu atau dua hari setelah telur ayam menetas dan mengeluarkan anak ayam, kuning telur masih tersisa dan melekat pada perut atau tali pusat (umbilical card) anak ayam tersebut.
Kuning telur dapat digunakan sementara untuk sumber makanan anak ayam.Putih telur (albumen) berfungsi sebagai pelindung embrio selama pertumbuhannya. Pada saat telur tergoncang atau bergerak tiba-tiba akibat getaran, maka putih telur yang mengelilingi embrio dan kuning telur akan melindungi embrio dan berfungsi sebagai bantalan. Kulit kerambang (shell) melindungi semua bagian telur dari luka atau kerusakan. (Kocher, 2002: 5)
Telur bernafas melalui lubang-lubang kecil tersebut. Kulit kerabang terlihat padat dan tertutup tetapi sebenarnya bersifat porous atau berlubang (pori-pori). Ada terdapat ribuan lubang kecil pada kulit telur, dan kita tidak daat melihatnya secara langsung. Pada ujung telur terdapat kantung udara (air pocket) yang terisi oleh oksigen.
Telur yang sudah dibuahi snagat lunak (delicate) dan mudah rusak jika tidak hati-hati memperlakukannya. Kadang-kadang telur yang sudah dibuahi sempurnapun tidak akan menetas karena posisi isinya teleh terbalik atau terkocok. Induk ayam yang sedang mengerami telurnya, membalik-baliknya telur secara teratur dengan paruhnya. Ini dilakukan karena telur cenderung mengambang dan menempel pada kulit kerambang. Jika telur terlalu lama berada pada posisi tersebut dan tidak segera dibalikkan. Kuning telur akan terpisah dari putih telur dan embrio yang menempel pada kuning telur akan tertekan langsung pada kulit kerambang sehingga bisa mengakibatkan kematian embrio. Induk ayam menghindari hal ini dengan membalik-balik posisi letak telur. Induk ayam menjaga suhu tetap hangat dan merata melalui bulunya yang menyebar. Induk ayam sangat peduli dengan telurnya dan biasanya tidak akan membiarkan siapapun menyentuh telurnya. (Nolan, 2002:9)
Ada 5 poin utama yang harus diperhatikan dalam penetasan telur yaitu:
1. Suhu (Temperatur)
2. Kelembaban udara (Humidity)
3. Ventilasi (Ventilation)
4. Pemutaran telur (Egg Turning)
5. Kebersihan (Cleanliness)
(Hongwei Xin 2013). Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan) . Penyiapan Sarana dan Peralatan :
a.Kandang
Iklim kandang yang cocok untuk beternak ayam petelur meliputi persyaratan temperatur berkisar antara 32,2–35 derajat, kelembaban berkisar antara 60–70%, penerangan dan atau pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang serta sirkulasi udara yang baik, jangan membuat kandang dengan permukaan lahan yang berbukit karena menghalangi sirkulasi udara dan membahayakan aliran air permukaan bila turun hujan, sebaiknya kandang dibangun dengan sistem terbuka agar hembusan angin cukup memberikan kesegaran di dalam kandang (Wei Wang , 2013) .
b.Peralatan
a. Litter ( alas bertelur )
Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.
b. Tempat bertelur
Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan kulit telur tidak kotor, dapat dibuatkan kotak ukuran 30 x 35 x 45 cm yang cukup untuk 4–5 ekor ayam. Kotak diletakkan dididing kandang dengan lebih tinggi dari tempat bertengger, penempatannya agar mudah pengambilan telur dari luar sehingga telur tidak pecah dan terinjak-injak serta dimakan. Dasar tempat bertelur dibuat miring dari kawat hingga telur langsung ke luar sarang setelah bertelur dan dibuat lubang yang lebih besar dari besar telur pada dasar sarang.
c. Tempat bertengger
Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.
d. Tempat makan dan minum
Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus
c. Pemeliharaan ayam petelur untuk Peyiapan Bibit
(Anonim, 2009) Ayam petelur yang akan dipelihara haruslah memenuhi syarat sebagai berikut, antara lain:
a) Ayam petelur harus sehat dan tidak cacat fisiknya.
b) Pertumbuhan dan perkembangan normal.
c) Ayam petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya.
Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken) /ayam umur sehari:
a) Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.
b) Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .
c) Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.
d) Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.
e) Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.
f) Tidak ada letakan tinja diduburnya.















BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengaruh Cahaya Terhadap Peneluran
Manajemen pengaturan cahaya sangat mempengaruhi proses integral dalam produksi telur. Pengaturan pemberian cahaya dalam manajemen ayam petelur dengan waktu 12 sampai 14 jam dalam satu hari yang terbagi menjadi waktu gelap dan waktu terang, mengingat ayam mempunyai sifat sangat sensitif terhadap waktu penyinaran. Waktu penyinaran ini mempengaruhi sifat mengeram, dewasa kelamin, periode bertelur, produksi telur dan tingkah laku sosial perkawinan ().
Penerimaan cahaya pada ayam akan mengakibatkan rangsangan terhadap syaraf pada syaraf optik, yang dilanjutkan oleh syaraf reseptor ke hipothalamus untuk memproduksi hormone releasing factor (HRS).  Hormone releasing factor selanjutnya merangsang pituitaria pars anterior untuk menghasilkan FSH dan LH. HRS juga merangsang pituitaria pars posterior untuk menghasilkan oksitosin (Nesheim et al., 1979).
 3.2 Pengaruh Hormon Terhadap Peneluran
FSH berpengaruh terhadap perkembangan folikel pada ovarium sehingga mempunyai ukuran yang tertentu. Pada saat perkembangan ovum FSH merangsang ovarium untuk mensekresikan estrogen yang akan mempengaruhi perkembangan pematangan oviduk untuk dapat mensekresikan kalsium, protein, lemak, vitamin, dan substansi lain dari dalam darah untuk pembentukan komponen telur (Nesheim et al., 1979). Hasil sekresi komponen telur tersebut akan mengakibatkan terjadinya perkembangan telur pada oviduk, sehingga dihasilkan telur utuh di dalam oviduk setelah didahului proses ovulasi (Nalbandov, 1990).
Ovum akan berkembang terus sehingga terjadi pematangan ovum. Proses pematangan ovum disebabkan adanya LH. Setelah ovum masak maka selaput folikel akan pecah dan ovum jatuh ke dalam mulut infundibulum (peristiwa ovulasi), proses ovulasi ini juga disebabkan peranan LH (Nalbandov, 1990).
Proses pembentukan komponen telur di dalam oviduk berlangsung dengan adanya hormon estrogen, juga terjadi pembentukan granula albumen oleh stimulasi dari hormon androgen dan progresteron sampai tercapai telur sempurna (Nalbandov, 1990). Setelah telur sempurna, maka pituitaria pars posteriorakan mensekresikan oksitosin yang merangsang oviduk sehingga terjadi ovoposition dan merangsang uterus untuk mengeluarkan telur pada proses peneluran (Nesheim et al., 1979).
Terdapat beberapa effek endocrine yang terjadi dari aksi sederhana dan langsung dari satu hormon. Aktifitas physiologis dari ayam, terutama yang betina, bergantung pada hubungan yang complex dari efek-efek kelenjer.
Sebagai contoh ialah pengaturan hormonal dari ovulasi dan pembentukan telur. Folicle Stimulating Hormon (FSH) yang berasal dari lobus anterior kelenjar pituitary menyebabkan pertumbuhan dari fillikel-follikel beserta ova didalamnya. Bila follicle telah mencapai besar, hormon “Leutinizing Hormon” ( LH ) dilepas dari kelenjer pituitary dan menyebabkan ovulasi.
Disamping itu oviduct juga berada dibawah pengaturan hormon dan dia distimulir pada waktu yang tepat untuk menangkap ovum yang di lepaskan waktu ovulasi.
Sekresi hormon dari fillikel bertanggung jawab untuk pembesaran oviduct sampai dapat berfungsi, untuk pemisahan tulang pubic, pembesaran vent, dan untuk mobilisasi timbunan-timbunan lemak untuk pembentukan kerang telur. Sekresi albumen berada dibawah kontrol satu hormon yang disekresikan oleh tenunan interstitel ovarium.
Pembentukan kerabang telur sebahagian berada dibawah kontrol hormon yang disekresikan oleh kelenjar parathyroid. Pada permulaan dan akhir pembentukan kerabang telur waktu sekresi dari hormon haruslah benar-benar tepat.
Pada akhirnya hormon yang dijumpai pada kelenjar pituitary bagian posterior tetapi disekresikan oleh sel-sel yang khusus dari hypothalamus akan bekerja pada waktu yang tepat, sehingga telur-telur yang telah terbentuk dikeluarkan.
Fungsi normal dari seluruh proses produksi telur semuanya tergantung pada penyesuaian serta syncronisasi yang tepat dari seluruh kejadian. Bila salah satu kelenjar mulai berfungsi secara tidak secara tidak normal ( menurut kehendaknya ) misal adanya penyerangan tumor dan tidak menunggu tanda yang tepat maka kemungkinan besar terbentuknya telur yang tidak normal, seperti telur tanpa kuning telur, kerabang telur yang lembek, telur dalam telur dua kuning telur dan sebagainya.
Waktu oviposition dapat dipengaruhi oleh pengaruh luar seperti menangkap atau memegang seekor petelur beberapa saat sebelum waktu bertelur yang normal terjadi akan dapat menunda oviposition yang cukup lama.
Gertakan dan pertumbuhan ovarium akan menghasilkan kenaikan produksi hormon-hormon ovarium yang cukup mengherankan sebab berlaku untuk kedua sex hormon jantan dan betina. Sex hormon jantan ( Androgen ) bertanggung jawab untuk keadaan merah dari pial serta jengger yang berlemak ( berlilin ) pada petelur yang normal. Sex hormon betina ( Estrogen ) mengontrol sifat-sifat kebetinaan yang sekunder seperti tatawarna bulu yang normal, tiadanya taji tingkah laku betina.
Disamping itu betelur dan ovalusi dapat terpengaruh oleh faktor luar dari cahaya terang atau gelap. Diketahui bahwa ovulasi terjadi ± 30 menit setelah bertelur. Tetapi jika peneluran terlambat sampai jam 4.00 sore, pelepasan ovum berikutnya, tidak akan terjadi kira-kira 10 – 12 jam kemudian, kecuali jika schedul cahaya normal untuk petelur telah disiapkan atau petelur tersebut dipelihara pada cahaya yang terus menerus dengan intensitas yang konstant selama 24 jam.
Jika cahaya digunakan sepanjang malam diperkirakan bahwa ayam akan bertelur pada siang dan malam hari tetapi hal ini tidak terjadi karena adanya perbedaan intensitas cahaya yang sangat jelas antara cahaya siang dan cahaya pada malam hari.
Kalau petelur-petelur dipelihara pada sangkar individual ( individual cage ) dalam suatu ruangan tanpa cahaya alam, dan secara terus menerus ( konstant ) diberi penerangan selama 24 jam,mereka akan bertelur setiap waktu dan akan menghasilkan sebahagian dari telurnya pada malam hari.
Petelur-petelur yang mendapat cahaya buatan dari jam 6 pagi – 6 sore ( 12 jam ) dan selama 12 jam lain tidak akan mendapat cahaya sama sekali, maka ayam-ayam akan bertelur pada siang siang hari. Bila schedul penyinaran dirobah yaitu dari jam 6 sore – 6 pagi dan pada siang hari tidak dapat cahaya sama sekali maka dalam waktu 3 hari, waktu bertelurnya berubah dan seluruh telurnya akan dikeluarkan pada malam hari.
3.3 Penggunaan Cahaya Buatan.
Cahaya buatan digunakan untuk mengontrol pertumbuhan dan kecepatan kedewasaan kelamin pullet sehingga tubuhnya sudah cukup besar untuk menghasilkan telur yang pertama sesuai yang diharapkan. Suatu masalah yang praktis ialah bagaimana mengontrolumur dan berat pada sexual matuarity sehingga “egg layingperformance”nya akan menguntungkan secara komersial. Cara ini dapat diatasi dengan cara mengurangi panjangnya hari dan pemeliharaan ayam tersebut mulai pemeliharaan sampai saat bertelur. Panjangnya hari pada pemeliharaan anak-anak ayam secara lambat laun dikurangi hingga hanya kira-kira 6 jam dalam sehari padaa saat mana pullet telah berumur 5,5 – 6 bulan. Pada saat ini cahaya dinaikkan 14 – 16 jam/hari guna menstimulir produksi (Anonim, 2012).
Untuk pelaksanaan ini akan membutuhkan kandang tertutup dimana semua cahaya alam tak ada sama sekali, selama akhir periode grower. Cahaya buatan dapat pula digunakan pada pullet yang tidak bertelur atau petelur tua untuk berproduksi pada waktu yang dikehendaki atau menunda produksi yang normal. Cahaya buatan tambahan dapat di gunakan pada ayam ( unngas ) sebagai rangsangan disamping cahaya alam. Pengaruh akibat penambahan cahaya itu akan diperoleh 7 – 10 hari kemudian. Biasanya penggunaan cahaya tambahan ini dilakukan pada pagi hari, sore hari atau kombinasi keduanya guna melengkapi kebutuhan cahaya 13 – 14 jam dalam sehari (S.Hartini, 2012).
Dalam gertakan cahaya akan mempunyai level intensitas tertentu sebab bertambah terangnya cahaya tidak berpengaruh terhadap kenaikan produksi telur yang lebih besar. Level intensitas cahaya 0,5 – 1 foot candle harus diberikan pada periode tergelap elama pemeliharaan ayam. Cahaya merah lebih efektif dari pada cahaya biru, tapi walupun demikian cahaya putih dari bola lampu biasa mengandung cahaya merah yang cukup untuk mengadakan stimulus yamg memuaskan. Anak ayam merlukan cahaya yang lebih banyak dari pada ayam tua. Setelah mencapai umur 4 minggu,ayam akan lebih baik pertumbuhannya apabila cahaya yang diberikan penuh lagi menjelang masak kelamin ( umur 20 – 22 minggu ). Cahaya yang diterima ayam dapat berupa cahaya buatan atau cahaya alam.
Cahaya sangat diperlukan dalam pemeliharaan ayam, karena memiliki arti penting berkaitan dengan proses pertumbuhan dan produksi ayam, yaitu sebagai berikut: Proses pertumbuhan.  Keberadaan cahaya yang masuk kedalam ruangan memungkinkan ayam untuk mampu melihat lingkungan sekitar, terutama makanan dan air minum yang tersedia. Sehingga dengan demikian, keberadaan cahaya tersebut tentu saja akan meningkatkan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh ayam. Sementara, jumlah makan yang masuk kedalam tubuh (feed intake), juga berpengaruh besar terhadap proses produksi. Proses Produksi Telur. 
Pengaruh cahaya terhadap proses produksi telur adalah merangsang hormon reproduksi gonadotropin, dan proses ovulasi atau peneluran. Hal ini terjadi karena cahaya yang masuk kedalam ruangan diterima saraf pada mata ayam, yang kemudian menimbulkan rangsangan dalam mengahsilkan hormon yang sangat potensial dalam proses pembentukan telur (Kocher, 2002).
Cahaya buatan digunakan untuk mengontrol pertumbuhan dan kecepatan kedewasaan kelamin pullet sehingga tubuhnya sudah cukup besar untuk menghasilkan telur yang pertama sesuai yang diharapkan.
Suatu masalah yang praktis ialah bagaimana mengontrolumur dan berat pada sexual matuarity sehingga “egg layingperformance”nya akan menguntungkan secara komersial. Cara ini dapat diatasi dengan cara mengurangi panjangnya hari dan pemeliharaan ayam tersebut mulai pemeliharaan sampai saat bertelur. Panjangnya hari pada pemeliharaan anak-anak ayam secara lambat laun dikurangi hingga hanya kira-kira 6 jam dalam sehari padaa saat mana pullet telah berumur 5,5 – 6 bulan. Pada saat ini cahaya dinaikkan 14 – 16 jam/hari guna menstimulir produksi.
Untuk pelaksanaan ini akan membutuhkan kandang tertutup dimana semua cahay alam tak ada sama sekali, selama akhir periode grower.Cahaya buatan dapat pula digunakan pada pullet yang tidak bertelur atau petelur tua untuk berproduksi pada waktu yang dikehendaki atau menunda produksi yang normal.Cahaya buatan tambahan dapat di gunakan pada ayam ( unggas ) sebagai rangsangan disamping cahaya alam. Pengaruh akibat penambahan cahaya itu akan diperoleh 7 – 10 hari kemudian. Biasanya penggunaan cahaya tambahan ini dilakukan pada pagi hari, sore hari atau kombinasi keduanya guna melengkapi kebutuhan cahaya 13 – 14 jam dalam sehari.
Dalam gertakan cahaya akan mempunyai level intensitas tertentu sebab bertambah terangnya cahaya tidak berpengaruh terhadap kenaikan produksi telur yang lebih besar. Level intensitas cahaya 0,5 – 1 foot candle harus diberikan pada periode tergelap Selama pemeliharaan ayam.
Cahaya merah lebih efektif dari pada cahaya biru, tapi walupun demikian cahaya putih dari bola lampu biasa mengandung cahaya merah yang cukup untuk mengadakan stimulus yamg memuaskan.Anak ayam merlukan cahaya yang lebih banyak dari pada ayam tua. Setelah mencapai umur 4 minggu,ayam akan lebih baik pertumbuhannya apabila cahaya yang diberikan penuh lagi menjelang masak kelamin ( umur 20 – 22 minggu ). Cahaya yang diterima ayam dapat berupa cahaya buatan atau cahaya alam.
            Cahaya sangat diperlukan dalam pemeliharaan ayam, karena memiliki arti penting berkaitan dengan proses pertumbuhan dan produksi ayam, yaitu sebagai berikut:
a.       Proses Pertumbuhan. 
Keberadaan cahaya yang masuk kedalam ruangan memungkinkan ayam untuk mampu melihat lingkungan sekitar, terutama makanan dan air minum yang tersedia. Sehingga dengan demikian, keberadaan cahaya tersebut tentu saja akan meningkatkan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh ayam. Sementara, jumlah makan yang masuk kedalam tubuh (feed intake), juga berpengaruh besar terhadap proses produksi.
b.      Proses Produksi Telur. 
Pengaruh cahaya terhadap proses produksi telur adalah merangsang hormon reproduksi gonadotropin, dan proses ovulasi atau peneluran. Hal ini terjadi karena cahaya yang masuk kedalam ruangan diterima saraf pada mata ayam, yang kemudian menimbulkan rangsangan dalam mengahsilkan hormon yang sangat potensial dalam proses pembentukan telur.Sejak umur 17 minggu, intensitas cahaya yang diterima harus ditingkatkan untuk merangsang alat reproduksi. Namun, peningkatan intensitas cahaya dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:
1.      Jika matahari memancarkan cahaya kurang dari 10 jam/hari.
2.      Kandang terlalu lebar, sehingga sebagian ruangan terutama bagian tengahnya redup (kurang mendapatkan cahaya).
3.      Kondisi ayam memang masih memungkinkan untuk memberikan peningkatan produksi.
Pada saat ayam berumur 22 minggu, ayam tersebut memiliki potensi besar dalam memberikan peningkatan produksi. Oleh karena itu, lama pencahayaan dapat ditambah secara bertahap. Sehingga diusahakan dalam satu hari, ayam mendapat cahaya selama 12-13 jam. Selanjutnya, pencahayaan ini ditingkatkan atau ditambah hingga 1 jam dalam satu hari secara bertahap, hingga akhirnya diperoleh lama pencahayaan 16-17 jam dalam satu harinya.
Manajemen pengaturan cahaya sangat mempengaruhi proses integral dalam produksi telur. Pengaturan pemberian cahaya dalam manajemen ayam petelur dengan waktu 12 sampai 14 jam dalam satu hari yang terbagi menjadi waktu gelap dan waktu terang, mengingat ayam mempunyai sifat sangat sensitif terhadap waktu penyinaran. Waktu penyinaran ini mempengaruhi sifat mengeram, dewasa kelamin, periode bertelur, produksi telur dan tingkah laku sosial perkawinan (Nesheim et al., 1979).\
Penerimaan cahaya pada ayam akan mengakibatkan rangsangan terhadap syaraf pada syaraf optik, yang dilanjutkan oleh syaraf reseptor ke hipothalamus untuk memproduksi hormone releasing factor (HRS). Hormone releasing factorselanjutnya merangsang pituitaria pars anterior untuk menghasilkan FSH dan LH. HRS juga merangsang pituitaria pars posterior untuk menghasilkan oksitosin (Nesheim et al., 1979).
Cahaya dapat didefinisikan sebagai suatu bagian dari spektrum gelombang elektromagnet yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya. Penelitian intensif pada ayam modern selama satu dekade terakhir mengindikasikan bahwa gelombang elektromagnet yang merupakan komponen cahaya dapat mempengaruhi fungsi fisiologis dari beberapa bagian dari otak besar, khususnya hypothalamus.
            Adanya pencahayaan, baik pencahayaan alami (sinar matahari) maupun cahaya buatan (lampu) akan menstimulasi hipotalamus di otak. Selanjutnya, “sinyal” cahaya akan diteruskan ke kelenjar-kelenjar tubuh, seperti hipofisa, tiroid dan paratiroid untuk menstimulasi disekresikannya hormon.
Kelenjar hipofisa akan mensekresikan “folicle stimulating hormone (FSH)” atau hormon perangsang perkembangan sel ovum pada indung telur (ovarium). Hormon inilah yang sangat berperan penting untuk pembentukan sebutir telur. Adanya sinyal cahaya juga menstimulasi kelenjar tiroid mensekresikan hormon tiroksin yang berfungsi mengatur kecepatan metabolisme tubuh sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan.
Kelenjar paratiroid juga terstimulasi oleh adanya cahaya untuk mensekresikan hormon paratiroksin yang berperan dalam pengaturan metabolisme kalsium (Ca) dan fosfor (P). Setelah melihat fungsi dari adanya pencahayaan tersebut maka sudah selayaknya kita memberikan perhatian yang lebih pada program pencahayaan. Beberapa hal yang selayaknya kita ketahui tentang program pencahayaan antara lain lama waktu pencahayaan, besarnya intensitas cahaya dan kapan pencahayaan tersebut dilakukan. Pada ayam petelur, lama waktu dan intensitas pencahayaan sangat dipengaruhi oleh fase atau umur produksi.
Pada masa starter diberikan pencahayaan dengan intensitas paling tinggi (20-40 lux) dan waktu paling lama (24 jam pada 1 minggu pertama). Tujuannya ialah mempermudah ayam mengenali tempat ransum dan air minum maupun untuk memacu pertumbuhan. Saat fase grower, program pencahayaan diberikan cahaya dalam waktu paling singkat (12 jam atau hanya dari cahaya matahari) dengan intensitas terendah (5-10 lux). Hal ini dimaksudkan untuk mengontrol perkembangan saluran reproduksi dan pencapaian berat badan yang optimal saat mulai berproduksi. 
Lain halnya saat fase layer, lama (16 jam) dan intensitas pencahayaan (10-20 lux) berada diantara fase starter dan grower. Pada fase layer ini, adanya pencahayaan akan membantu proses pembentukan telur, pertumbuhan berat badan dan membantu metabolisme Ca dan P yang sangat diperlukan untuk pembentukan kerabang telur dan tulang. Jumlah lampu yang diperlukan untuk memperoleh intensitas yang dikehendaki dapat diketahui dengan rumus:
Berikut adalah perhitungan jumlah lampu yang dibutuhkan untuk luasan kandang dan jenis lampu tertentu. 
∑ lampu = Luas kandang x Intensitas cahaya 
Watt lampu x K faktor 
K faktor merupakan konstanta yang nilainya tergantung daya lampu, yaitu : 
Watt Lampu 15 25 40 60 100 
K Faktor 3,8 4,2 4,2 5,0 6,0
Selain lama waktu dan intensitas pencahayaan, penentuan waktu untuk menambah atau mengurangi pencahayaan juga wajib diperhatikan oleh peternak. Dua hal penting tentang pencahayaan adalah jangan menambah jam terang selama masa pertumbuhan (fase grower) dan sebaliknya jangan mengurangi jam terang selama masa produksi. Jarak dan distribusi lampu juga harus diperhatikan. Jangan sampai jarak maupun intensitas lampu yang digunakan tidak sama. Jarak pemasangan lampu yang kurang baik, yaitu jarak antar satu lampu dengan lainnya tidak sama dapat mengakibatkan perbedaan intensitas cahaya.
Data penelitian menunjukkan adanya pengaruh pencahayaan terhadap performa produksi telur , A.S Jatoi menjelaskan bahwa ayam yang diberi pencahayaan selama 8 jam pada masa grower dan 14 jam pada masa layer mampu menghasilkan telur dalam jumlah lebih banyak (berbeda signifikan) meskipun berat telurnya sedikit lebih ringan.
Pemberian cahaya yang sama antara masa grower dan layer terbukti mempunyai produksi telur lebih rendah meskipun berat telurnya lebih besar. Namun pemberian cahaya secara terus-menerus (tanpa pengaturan) akan mengakibatkan ayam kurang peka rangsangan cahaya saat memasuki masa layer (produksi telur). Selain itu, pemberian cahaya yang kurang sesuai (terlalu lama) akan menyebabkan berat badan ayam lebih besar.
Dari penelitian A.S Jatoi (2013) juga diketahui bahwa ayam grower yang dipelihara dengan lama pencahayaan 14 jam terus-menerus mempunyai berat badan 60 gram lebih berat pada umur 19 minggu.
Penambahan cahaya juga dapat mempercepat dewasa kelamin (umur bertelur).Menyatakan jika penambahan cahaya dilakukan dua hari lebih awal maka ayam akan bertelur lebih cepat 1 hari. Namun perlu diingat, ayam yang terlalu cepat bertelur namun berat tubuhnya belum optimal akan menghasilkan telur dengan ukuran yang lebih kecil. Dan hal ini akan relatif sulit untuk diperbaiki karena saat mulai bertelur sampai puncak produksi (masa kritis), ayam harus mengalokasi ransum yang dikonsumsi untuk 2 proses penting, yaitu produksi telur (mencapai puncak) dan pertumbuhan (± 300 gram). Sama halnya jika terlalu gemuk, penambahan cahaya akan memicu terjadinya prolapse.
Melakukan kontrol berat badan secara ketat, program vaksinasi yang sesuai, pemberian ransum sesuai kebutuhan dan memberikan stimulasi cahaya menjadi langkah penting untuk tercapainya produksi yang optimal. Produksi telur tercapai, keuntungan pun tinggi. Menurut Patrick (2013) Waktu pemberian cahaya buatan ada 3 macam: 
1. Morning light (penambahan cahaya pada dini hari)
2. Evening light (penambahan cahaya pada sore hari)
3. Morning and evening light (penambahan cahaya kombinasi pagi dan sore hari)

Pencahayaan stepdown memiliki efek minimal terhadap berat badan lapisan 18-minggu dan juga menunda kematangan seksual mereka dengan mengurangi produksi telur, Padahal lebih lama konstan sepanjang hari selama pemeliharaan dapat meningkatkan konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan pada 18 minggu (Leeson dan Summers 1985 , Leeson et al 1988). Program cahaya kontinyu telah dilaporkan untuk menginduksi kurang tidur dan tanggapan stres berat fisiologis pada ayam pedaging (Campo dan Davila 2002;. Kliger et al, 2000). Fokus penelitian terbaru adalah untuk membatasi rejimen cahaya untuk meningkatkan produktivitas ayam karena aktivitas fisik yang rendah selama kegelapan dan pengeluaran energi yang cukup aktivitas (Rahimi et al. 2005).

3.4 Hubungan cahaya terhadap produktivitas ternak unggas 
Terdapat beberapa effek endocrine yang terjadi dari aksi sederhana dan langsung dari satu hormon. Aktifitas physiologis dari ayam, terutama yang betina, bergantung pada hubungan yang complex dari efek-efek kelenjer. Sebagai contoh ialah pengaturan hormonal dari ovulasi dan pembentukan telur. Folicle Stimulating Hormon (FSH) yang berasal dari lobus anterior kelenjar pituitary menyebabkan pertumbuhan dari fillikel-follikel beserta ova didalamnya. Bila follicle telah mencapai besar, hormon “Leutinizing Hormon” ( LH ) dilepas dari kelenjer pituitary dan menyebabkan ovulasi. Disamping itu oviduct juga berada dibawah pengaturan hormon dan dia distimulir pada waktu yang tepat untuk menangkap ovum yang di lepaskan waktu ovulasi (Kocher dkk,2002)
Sekresi hormon dari folikel bertanggung jawab untuk pembesaran oviduct sampai dapat berfungsi, untuk pemisahan tulang pubic, pembesaran vent, dan untuk mobilisasi timbunan-timbunan lemak untuk pembentukan kerang telur. Sekresi albumen berada dibawah kontrol satu hormon yang disekresikan oleh tenunan interstitel ovarium. Pembentukan kerabang telur sebahagian berada dibawah kontrol hormon yang disekresikan oleh kelenjar parathyroid. Pada permulaan dan akhir pembentukan kerabang telur waktu sekresi dari hormon haruslah benar-benar tepat. Pada akhirnya hormon yang dijumpai pada kelenjar pituitary bagian posterior tetapi disekresikan oleh sel-sel yang khusus dari hypothalamus akan bekerja pada waktu yang tepat, sehingga telur-telur yang telah terbentuk dikeluarkan (Kocher dkk , 2002).
Fungsi normal dari seluruh proses produksi telur semuanya tergantung pada penyesuaian serta syncronisasi yang tepat dari seluruh kejadian. Bila salah satu kelenjar mulai berfungsi secara tidak secara tidak normal ( menurut kehendaknya ) misal adanya penyerangan tumor dan tidak menunggu tanda yang tepat maka kemungkinan besar terbentuknya telur yang tidak normal, seperti telur tanpa kuning telur, kerabang telur yang lembek, telur dalam telur dua kuning telur dan sebagainya. Waktu oviposition dapat dipengaruhi oleh pengaruh luar seperti menangkap atau memegang seekor petelur beberapa saat sebelum waktu bertelur yang normal terjadi akan dapat menunda oviposition yang cukup lama.
Gertakan dan pertumbuhan ovarium akan menghasilkan kenaikan produksi hormon-hormon ovarium yang cukup mengherankan sebab berlaku untuk kedua sex hormon jantan dan betina. Sex hormon jantan ( Androgen ) bertanggung jawab untuk keadaan merah dari pial serta jengger yang berlemak ( berlilin ) pada petelur yang normal. Sex hormon betina ( Estrogen ) mengontrol sifat-sifat kebetinaan yang sekunder seperti tatawarna bulu yang normal, tiadanya taji tingkah laku betina (Kocher dkk, 2002).
Disamping itu betelur dan ovalusi dapat terpengaruh oleh faktor luar dari cahaya terang atau gelap. Diketahui bahwa ovulasi terjadi ± 30 menit setelah bertelur. Tetapi jika peneluran terlambat sampai jam 4.00 sore, pelepasan ovum berikutnya, tidak akan terjadi kira-kira 10 – 12 jam kemudian, kecuali jika schedul cahaya normal untuk petelur telah disiapkan atau petelur tersebut dipelihara pada cahaya yang terus menerus dengan intensitas yang konstant selama 24 jam.
Jika cahaya digunakan sepanjang malam diperkirakan bahwa ayam akan bertelur pada siang dan malam hari tetapi hal ini tidak terjadi karena adanya perbedaan intensitas cahaya yang sangat jelas antara cahaya siang dan cahaya pada malam hari. Kalau petelur-petelur dipelihara pada sangkar individual ( individual cage ) dalam suatu ruangan tanpa cahaya alam, dan secara terus menerus ( konstant ) diberi penerangan selama 24 jam,mereka akan bertelur setiap waktu dan akan menghasilkan sebahagian dari telurnya pada malam hari. Petelur-petelur yang mendapat cahaya buatan dari jam 6 pagi – 6 sore ( 12 jam ) dan selama 12 jam lain tidak akan mendapat cahaya sama sekali, maka ayam-ayam akan bertelur pada siang siang hari. Bila schedul penyinaran dirobah yaitu dari jam 6 sore – 6 pagi dan pada siang hari tidak dapat cahaya sama sekali maka dalam waktu 3 hari, waktu bertelurnya berubah dan seluruh telurnya akan dikeluarkan pada malam hari.
Sebuah penelitian dilakukan di Avian Research dan Training Centre, Universitas Kedokteran Hewan dan Ilmu Hewan, Lahore untuk mengetahui pengaruh awal cahaya kontinyu Ada perbedaan signifikan dalam berat albumin, persentase albumin, berat kuning telur, persentase kuning telur, kuning + bobot putih telur dan warna kuning telur . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berat badan rata-rata (g) dalam unggas adalah 268,81 ± 5,09, 280,70 ± 12,3, 267,96 ± 2,99, 274,10 ± 12,3, 271,20 ± 10.3g bawah perawatan cahaya A, B, C, D dan E , masing-masing, mengindikasikan pengaruh perlakuan cahaya pada berat badan signifikan (p <0,05). berat badan tertinggi rata-rata tercatat dalam perawatan B (cahaya berselang 2 jam plus) diikuti oleh perlakuan D, E, A dan C. Hasil penelitian ini diperkuat dengan temuan Padhi dkk. (1998) yang melaporkan variabel ukuran telur dalam galur inbred ayam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rejimen cahaya berselang yang berbeda dibandingkan terus menerus secara signifikan mempengaruhi kinerja ayam petelur dalam hal berat badan, produksi telur, konsumsi pakan dan FCR / Kg telur .

           

















BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak (Yang zhao , 2013).
2. Pengaturan pemberian cahaya dalam manajemen ayam petelur dengan waktu 12 sampai 14 jam dalam satu hari yang terbagi menjadi waktu gelap dan waktu terang, mengingat ayam mempunyai sifat sangat sensitif terhadap waktu penyinaran .
3. Ayam disimpan dalam cahaya redup cenderung kurang aktif dari pada yang disimpan di bawah cahaya terang , hal ini dikarenakan adanya suatu hormon pada saraf optik.
4. Penerimaan cahaya pada ayam akan mengakibatkan rangsangan terhadap syaraf pada syaraf optik, yang dilanjutkan oleh syaraf reseptor ke hipothalamus untuk memproduksi hormone releasing factor (HRS).
5. Pengaruh cahaya terhadap proses produksi telur adalah merangsang hormon reproduksi gonadotropin, dan proses ovulasi atau peneluran.
6. FSH berpengaruh terhadap perkembangan folikel pada ovarium sehingga mempunyai ukuran yang tertentu .
7. Pengaruh awal cahaya kontinyu Ada perbedaan signifikan dalam berat albumin, persentase albumin, berat kuning telur, persentase kuning telur, kuning + bobot putih telur dan warna kuning telur.



4.2 Saran
1. Semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi referensi bagi mahasiswa peternakan .
2.Sebaiknya materi management hari gelap dan hari terang pada unggas lebih dipahami agar peternak-peternak kecil dapat mengerti mengenai sistem pencahayaannya pada ayam petelur , puyuh dll .



















DAFTAR PUSTAKA

Jatoi  .A.S dkk . 2013 . Post-Peak  Egg Production  In Local  and  Imported           Strains  Of                   Japanase Quails (COTURNIX COTURNIX      JAPONICA) AS Influenced by Continuous     and Intermittent light   rehimens during early growing period . University of   Veterinary and            Animal.ciences . Lahore ,Pakistan.

M. Patrick . 2013 . Laying performance and egg traits of indigenous Tswana
            chickens under traditional management . Botswana College of Agriculture             . Botswana
Hartini .S , dkk . Effect Of  Light Intensity  During Rearing And Beak Trimming     And  Dietary    Fiber Sources On Mortality, Egg Production, And          Performance Of  ISA Brown   Laying Hens . University of New England .             Australia .

Zhao Yang , dkk .2013.  Characterizing Manure and Litter Properties and Their     Carbon            Dioxide  Production in an Aviary Laying-Hen Housing           System. Iowa State University            . China

Yildirim.A ,dkk .2013. Effects of Korean ginseng (Panax ginseng C.A. Meyer)       root extract      on egg production performance and egg quality of laying            hens . University of     Cumhuriyet     . Sivas/Turkey .

Eilati Erfan ,dkk . 2012 . Age dependent increase in prostaglandin pathway            coincides with onset    of ovarian cancer in laying hens. Southern Illinois          University . USA










2 komentar:

  1. Play Coin Casino » Claim CA$20 Welcome Bonus » Dec 2021
    The Best CA$20 No Deposit Slots ✓ Best Online Casinos for 인카지노 2021 ✓ Play Online Casinos For Real 바카라 사이트 Money หารายได้เสริม ✓ Fast Payouts

    BalasHapus
  2. Harrah's Cherokee Casino & Hotel - Mapyro
    Discover 계룡 출장샵 great prices for rooms at Harrah's Cherokee Casino 전주 출장마사지 & 강릉 출장마사지 Hotel in Cherokee, NC. Book online 충주 출장안마 or call now. 2021 Rooms. Rating: 광주 출장안마 2.8 · ‎15 reviews

    BalasHapus